“Yang Kami Lakukan adalah Upaya Rekonsiliasi Kultural di Tingkat Bawah”

Authors

  • Andi Achdian MSI

Abstract

Dalam 10 tahun terakhir, terdapat sebuah trend baru dalam membicarakan isu 1965. Jika pada
awal Reformasi, diskursus tentang 1965 dipenuhi oleh kesaksian-kesaksian korban dan
penyintas, serta analisa HAM dalam kerangka keadilan transisional, saat ini kita melihat
kemunculan generasi muda yang berbicara tentang 1965. Trend ini sangat unik karena dua hal.
Pertama, anak-anak muda yang berbicara tentang 1965 biasanya terdiri dari generasi ketiga
korban–kakek atau nenek mereka menjadi korban kekerasan 1965–atau generasi muda yang
sama sekali tidak terkait secara langsung dengan 1965 (tidak ada anggota keluarga yang menjadi
korban) tetapi memiliki keresahan mendalam dengan persekusi yang masih berlanjut terhadap
kelompok Kiri. Kedua, generasi muda ini cenderung menggunakan media kreatif sebagai cara
untuk menyampaikan ide-ide mereka pada publik yang lebih luas. Untuk memahami lebih jauh
bagaimana 1965 mempengaruhi pemikiran dan keresahan, serta proses kreatif mereka, Jurnal
Sejarah mewawancarai tiga orang muda yang berbicara tentang 1965 melalui karya seni mereka.
Rangga Purbaya adalah seorang seniman yang berdomisili di Yogyakarta dan turut mendirikan
kolektif seniman Ruang MES 56. Dia juga bagian dari keluarga penyintas '65. Sementara itu,
Mega Nur dan Yesa Utomo adalah dua seniman dari Studio Malya. Pada 2019, mereka
membuat sebuah seni instalasi "Have You Heard It Lately?" yang mengumpulkan rekaman suara
orang-orang dari berbagai latar belakang yang mengungkapkan pandangan mereka tentang
1965 dan rekonsiliasi. Pada 27 Agustus 2021 lalu, Jurnal Sejarah mewawancarai mereka.

Published

2023-12-08