Masa Lalu dalam Gambar, Gambar sebagai Masa Lalu
Abstract
Sejarah visual sebagai sebuah kategori selalu berada di antara dua tegangan: rekonstruksi masa lalu
melalui gambar atau menjadikan materi visual sebagai sumber sejarah. Tarik menarik di antara
keduanya bisa ditelusuri jauh sampai ke abad pertengahan, ketika lukisan masih merupakan media
yang bisa menghadirkan gambaran visual dari sebuah peristiwa sejarah. Kemajuan di bidang teknologi
fotografi di abad ke-19, film di abad ke-20, dan berkembangnya apa yang disebut kebudayaan digital di
abad ke-21, semakin membuat pembahasan mengenai sejarah visual penting untuk dilakukan.
Hayden White menyebut praktik merepresentasikan masa lalu dan pandangan kita terhadapnya
melalui gambar sebagai historiophoty, sebagaimana ia tulis dalam artikelnya yang berjudul
”Historiography and Historiophoty”, terbit tahun 1988. Artikel ini ditulis sebagai sebuah respons atas
ajakan diskusi Robert Rosenstone yang melempar wacana pentingnya merekonstruksi masa lalu
secara visual dalam artikel yang berjudul ”History in Images/History in Words: Reflections on the
Possibility of Really Putting History onto Film”. Pokok persoalan dalam artikel tersebut adalah sejauh
mana gambar bisa menggantikan tulisan dalam praktik merekonstruksi masa lalu, tanpa mereduksi
kompleksitas masa lalu itu sendiri, dan patuh pada upaya menceritakan masa lalu sebagaimana adanya.
Ini adalah persoalan yang sebetulnya juga bisa diatributkan ke praktik representasi masa lalu secara
konvensional, yakni persoalan-persoalan yang berkaitan dengan detail dan akurasi sebuah peristiwa di
masa lalu



