Pengantar

Authors

  • Masyarakat Sejarawan Indonesia Masyarakat Sejarawan Indonesia

Abstract

Dalam Runtuhnya Hindia Belanda (1989), Onghokham telah mengemukakan pandangan menarik yang
terjadi selama empat dekade akhir kekuasaan kolonialisme Belanda di Indonesia. Menurutnya, sepanjang
periode tersebut telah berkembang apa yang disebutnya sebagai “gejala perkotaan” yang mewakili
“berbagai kehidupan ‘kota’ yang baru” dengan “golongan kota” yang melahirkan kebudayaan baru diwakili
pengusaha, pedagang kecil, tukang dan buruh (kleine Middenstand), pegawai pemerintah, dan pekerja
profesional lulusan sekolah model pendidikan Barat. Onghokham melihat bahwa kaum pergerakan sangat
memperhatikan “kedudukan ekonomi orang-orang Indonesia ini dan pada pokoknya golongan-golongan
itu,” tulisnya. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa “Salah satu strategi pergerakan terpenting pada dekade
1930an ...adalah memenangkan (dukungan) golongan kota Indonesia dan memperkuat kedudukannya
dalam hal ekonomi.” Persoalannya pun bukan sekedar bagaimana memenangkan dukungan golongan
menengah perkotaan bagi politik kaum nasionalis saat itu, tetapi juga karena “banyak aktivis, bila mungkin
bukan tokoh-tokohnya yang berasa dari golongan kota ini. Banyak sekali jumlah pemimpin atau aktivis di
cabang-cabang, di pergerakan buruh-buruh, atau di kepanduan, dan lain-lain yang berasal dari golongan
kota ini (Onghokham, 1989: 100-102).

Published

2023-11-24